sejarah desain sampul album

saat musik divisualisasikan menjadi identitas budaya

sejarah desain sampul album
I

Pernahkah kita menyadari sebuah kebiasaan kecil yang sering kita lakukan saat mendengarkan musik di era fisik dulu? Memegang sampul kaset, CD, atau piringan hitam, lalu menatap detail gambarnya lekat-lekat selagi lagunya mengalun. Anehnya, saat kita melakukan itu, lagu yang kita dengar terasa memiliki warna, bentuk, dan tekstur. Seolah-olah musiknya jadi bisa dilihat. Sekarang di era digital, kita mungkin cuma melihat kotak kecil di layar ponsel, tapi sensasinya tetap sama. Tanpa sadar, kita sering menilai karakter sebuah lagu atau band hanya dari visual sampulnya. Pertanyaannya, sejak kapan suara yang tidak terlihat ini membutuhkan "wajah"? Dan kenapa otak kita begitu terobsesi mencocokkan apa yang kita dengar dengan apa yang kita lihat?

II

Mari kita mundur sejenak ke tahun 1930-an. Bayangkan teman-teman pergi ke toko musik pada masa itu. Pemandangannya sangat membosankan. Semua piringan hitam dibungkus dengan kertas tebal berwarna coklat kusam, persis seperti kertas pembungkus paket atau gorengan. Tidak ada gambar, cuma ada stiker kecil berisi nama musisi dan judul lagu. Musik pada saat itu murni soal apa yang masuk ke telinga. Visual tidak punya tempat. Sampai akhirnya di tahun 1938, seorang pria berusia 23 tahun bernama Alex Steinweiss dipekerjakan oleh Columbia Records. Dia merasa rak piringan hitam itu terlihat menyedihkan. Alex lalu punya ide gila: bagaimana kalau bungkus coklat itu diganti dengan ilustrasi berwarna yang menangkap emosi dari musik di dalamnya? Bosnya awalnya ragu karena itu memakan biaya cetak ekstra. Tapi begitu eksperimen pertama itu dirilis, penjualan melonjak drastis hingga ratusan persen. Sejarah pun berubah. Pembungkus kardus yang tadinya cuma berfungsi melindungi plat piringan hitam, tiba-tiba berevolusi menjadi sebuah kanvas seni.

III

Namun, ada sebuah misteri psikologis di balik lonjakan penjualan tersebut. Kenapa sekadar gambar bisa membuat orang tiba-tiba ingin membeli musik? Apakah ini cuma trik marketing murahan, atau ada sesuatu yang lebih dalam yang terjadi di kepala kita? Mari kita pikirkan ini bersama-sama. Memasuki dekade 60-an dan 70-an, sampul album mulai lepas dari sekadar "alat jualan" dan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih sakral. Teman-teman pasti tahu prisma pelangi milik Pink Floyd, atau bayi yang berenang mengejar uang dolar milik Nirvana. Sampul-sampul ini bukan lagi sekadar pelengkap musik. Mereka berubah menjadi semacam monumen budaya. Sampul album menjadi cara anak muda zaman itu untuk mendeklarasikan diri. Saat seseorang menenteng piringan hitam dengan logo The Velvet Underground tergambar pisang kuning karya Andy Warhol, dia tidak sedang membawa musik. Dia sedang memegang sebuah pernyataan sikap. Tapi, bagaimana caranya selembar kertas berukuran 12 inci bisa meretas otak kita hingga kita menjadikannya sebagai identitas diri?

IV

Jawabannya terletak pada cara kabel-kabel di otak kita merajut realitas, yang secara ilmiah disebut sebagai crossmodal perception. Secara alamiah, otak manusia benci pada hal-hal yang terlalu abstrak. Musik itu wujudnya seperti hantu; ia tidak bisa dipegang dan akan hilang begitu suaranya berhenti. Agar otak kita bisa mencerna dan mengingat emosi kompleks dari sebuah lagu, bagian otak yang memproses pendengaran (auditory cortex) akan secara aktif mencari bantuan dari bagian otak yang memproses penglihatan (visual cortex). Dalam neurosains, ada sebuah hukum yang berbunyi neurons that fire together, wire together (sel saraf yang menyala bersamaan, akan terhubung secara permanen). Saat kita mendengar lagu yang penuh kemarahan sambil melihat sampul album dengan desain yang kasar dan warna kontras, otak kita mengunci dua informasi itu menjadi satu memori emosional yang utuh. Visual itu memberi musik sebuah tubuh fisik. Lebih jauh lagi dalam psikologi sosial, sampul album berfungsi sebagai social signifier atau penanda kelompok. Manusia adalah makhluk komunal yang butuh rasa memiliki (sense of belonging). Saat emosi kita terwakili oleh sebuah karya seni visual, karya seni itu berubah menjadi bendera suku kita. Sampul album memberi kita bahasa tanpa kata untuk berteriak kepada dunia: "Inilah yang saya rasakan, dan inilah kelompok orang-orang yang memahami saya."

V

Hari ini, kita hidup di mana musik mengalir tanpa henti di awan digital. Sampul album telah menyusut menjadi ukuran sebesar ibu jari di layar gawai kita. Piringan hitam mungkin sudah menjadi barang koleksi mewah, bukan lagi kebutuhan harian. Tapi mari kita renungkan satu hal yang indah ini: biologi otak kita sama sekali belum berubah. Kita mungkin tidak lagi menenteng plat piringan hitam di jalanan, tapi kita masih memakai kaus dengan gambar sampul album favorit kita. Kita masih membagikan tangkapan layar lagu yang kita dengar ke media sosial, lengkap dengan visual art-nya. Kita masih terus mencari cerminan diri kita pada gambar-gambar itu. Pada akhirnya, sejarah sampul album bukan sekadar cerita tentang desain grafis atau industri musik. Ini adalah cerita tentang empati dan kerentanan manusia. Kita adalah makhluk visual yang selalu berusaha mencari bentuk dari perasaan kita yang paling tidak kasat mata, agar kita tidak merasa sendirian di dunia ini.